Rabu, 08 Juli 2015

Ada Kembaran Angeline di Bali, Mirip dan Hidupnya Sangat Sederhana!

Tags


Bocah ini diketahui bernama Ni Wayan Sintia Diana. Wajah Sintia amat mirip dengan almarhumah Angeline, bocah 8 tahun yang tewas dibunuh dan dikubur di belakang rumah ibu angkatnya di Denpasar, Bali. Warga sangat heboh dengan adanya kembaran Angeline, terlebih lagi netizen.


Saat ditemui di rumahnya, Sintia memanggil sang ayah untuk keluar ketika wartawan datang. Sudika, sangat ramah saat mempersilahkan tamunya masuk. Namun, ia bingung mereka harus duduk dimana, sebab kanan dan kiri tak ada kursi untuk diduduki.

Ada dua bangunan semi permanen yang berdiri di atas tanah seluas sekitar dua are tersebut. Satu bangunan dijadikan rumah tinggal, yang terdiri dari kamar tidur sekaligus dapur. Ukurannya sekitar 8x5 meter. Lantai yang terbuat dari satu lapisan batako sudah tertutup tanah. Bambu yang dirajut digunakan sebagai dinding. Sinar matahari pun sampai masuk menembus lubang-lubang rajutan bambu.

Ia mengaku, jika panas ya kepanasan, jika hujan pasti merembes atau bocor. Di dalam kamar, ada dua ranjang kecil yang terbuat dari kayu dan bambu yang sudah lapuk. Satu untuk istrinya, Ni Wayan Setiani dan anak ketiganya yang hari ini genap berusia 10 hari, I Komang Sugianta. Satunya lagi untuk dirinya. Sementara Sintia dan adiknya Ni Kadek Apriliani  terpaksa menginap di rumah tetangga.

Kamar tempat mereka tidur juga dijadikan dapur sehingga ada jelaga yang hitamnya melekat di dinding dan genteng rumah. Kayu bakar dan perabotan memasak pun memenuhi seisi ruangan. Ada yang digantung, ada juga yang bercereran di atas lantai. Beras yang dibungkus plastik, singkong dan sayuran berjejer di atas meja. Jadi di kamar itu, tempat tidur, pakaian, dapur dan semua peralatannya menjadi satu.

Sementara di sebelah timur ada sebuah bangunan yang menyerupai Perapen. Bangunan itu ia jadikan tempat bekerja menempa perabotan seperti pisau, golok, sabit, cangkul, dan sebagainya. Kendati bukan keturunan clan atau soroh Pande, namun Sudika mahir membuat dan memperbaiki berbagai jenis perabotan.

Kerja kerasnya dalam sebulan memang menghasilkan. Kalau lagi ramai pesanan, dalam sebulan Sudika mampu mengantongi Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Namun nominal itu tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya setiap hari. Namun jika sepi, hanya sekitar Rp 100 ribu yang bisa dihasilkannya dalam sebulan. Untuk menyiasati kebutuhan sehari-hari, Sudika memprioritaskan untuk membeli beras. Sayur-sayuran ia petik dari kebun milik saudaranya.

Sudika juga tidak memiliki tempat untuk mandi, cuci, dan kakus. Untuk itu biasanya keluarganya numpang di tetangga. Terkadang, karena merasa tidak enak, ia memilih mencari air lalu mandi di belakang kamarnya tersebut. Sudika mengaku, sampai saat ini ia tidak memiliki kartu kesehatan, baik itu JKBM ataupun Jamkesmas. Alhasil setiap keluarganya sakit, Sudika selalu kesulitan untuk mencari biaya pengobatan.

Sudika dan Setiani bersyukur memiliki anak yang pengertian seperti Sintia. Di umurnya yang baru lima tahun, Sintia seakan seperti paham betul dengan kondisi keluarga.Yang namanya anak kecil, rasa ingin memiliki mainan atau membeli makanan pasti selalu ada. Namun, Sintia hanya cukup diberikan nasihat hingga ia berhenti menangis.

PolisiOnline.net adalah Situs Perlawanan Terhadap Kejahatan Internet (Cyber Crime) yang dipersembahkan oleh RIZALmedia. Hubungi : Kontak PolisiOnline.net.


EmoticonEmoticon