Kamis, 09 Juli 2015

Miris, BI Jaga Rupiah Karena Melemah

Tags


Laju nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (8/7/2015) mengalami pelemahan dan hampir menyentuh level Rp 13.350 per dolar AS. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia hari ini, rupiah melemah 33 poin menjadi Rp 13.346 dari posisi hari sebelumnya Rp 13.313 per dolar AS. Sementara data Bloomberg pada pukul 12.01 WIB, rupiah di level Rp 13.342 atau melemah dari pembukaan tadi pagi pada angka Rp 13.334 per dolar AS.



Sepanjang perdagangan, hingga pukul tersebut rupiah sempat menyentuh level tertinggi Rp 13.366 dan terendah Rp 13.333 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa akhir Juni 2015 tercatat US$ 108,0 miliar atau turun US$ 2,8 miliar dari posisi akhir Mei yang sebesar US$ 110,8 miliar.
Penurunan ini karena bank sentral menggunakan dana tersebut untuk menjaga nilai tukar rupiah dan membayar utang luar negeri pemerintah.

BI mengklaim intervensi untuk menjaga rupiah adalah langkah penting yang perlu dilakukan. Agar rupiah sesuai fundamentalnya guna mendukung stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan. Pelemahan karena efek eksternal, yakni penguatan ekonomi AS dan isu seputar kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve.

Meski begitu, posisi cadangan devisa per akhir Juni ini masih cukup membiayai 7 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jumlah itu masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih berpendapat nilai tukar rupiah masih rentan terhadap tekanan eksternal.

Kondisi Yunani dan persoalan terbaru dari China yang dikhawatirkan mengalami krisis bakal menekan rupiah. Di pasar keuangan, keluarnya dana asing akibat sentimen eksternal masih jadi penentu bagi rupiah. Rupiah berpotensi melemah ke arah Rp 13.300 per dollar AS.

Apa yang dilakukan BI dengan menggelontorkan cadangan devisa untuk menstabilkan rupiah memang harus dilakukan. Jika BI tidak mengeluarkan cadangan devisanya, rupiah akan semakin tertekan dan dampaknya merambat ke mana-mana. Pelemahan rupiah yang akan memukul makro ekonomi adalah menaikkan inflasi dan biaya impor.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai cadangan devisa adalah instrumen BI untuk menstabilkan rupiah disamping untuk mempertahankan kebijakan moneter ketatnya. Tapi kini, dengan sentimen global yang terus terjadi, BI harus berpikir untuk mempertebal pundi-pundi cadangan devisa. BI harus memperluas kerja sama Bilateral Swap Arrangement (BSA) dengan berbagai negara, khususnya negara di Asia.

Saat ini Indonesia telah menandatangani sejumlah BSA dengan berbagai negara. BSA dengan China senilai US$ 15 miliar, dengan Jepang senilai US$ 22,78 miliar, dan dengan Korea Selatan senilai US$ 10 miliar. Ada pula komitmen kerja sama Perjanjian Chiang Mai Initiative Multilateralisation (CMIM) antara Indonesia dengan negara kawasan ASEAN, juga dengan China, Jepang serta Korea Selatan sebesar US$ 240 miliar.

BankIndonesia (BI) mengatakan nilai tukar rupiah bakal berada dalam kondisi yang perlu terus diwaspadai hingga akhir tahun. Hal ini dikarenakan penundaan kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika The Fed. Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, Amerika menunda kenaikan suku bunga acuannya hingga Desember 2015. Kalaupun mau menaikkan suku bunga, maka kenaikannya akan dilakukan secara gradual. Berita ini bukanlah kabar baik bagi negara-negara dunia, termasuk Indonesia.

PolisiOnline.net adalah Situs Perlawanan Terhadap Kejahatan Internet (Cyber Crime) yang dipersembahkan oleh RIZALmedia. Hubungi : Kontak PolisiOnline.net.


EmoticonEmoticon